FLIGHT LEVEL 2045 | Episode 01

Turbulensi Rantai Pasok: Mengapa Kita Masih Menjadi ‘Penumpang’ di Langit Sendiri?

Oleh: Capt. Virda Dimas Ekaputra, S.Sos, MM – Founder & Chairman, Visi Dirgantara Group of Aviation

Pernahkah kita menatap langit Nusantara yang dipenuhi ribuan pergerakan pesawat setiap harinya dan menyadari satu ironi terbesar industri kita? Secara geografis, kita adalah penguasa ruang udara terbesar di Asia Tenggara. Secara demografis, kita adalah pasar aviasi raksasa. Namun secara ekonomi industri, kita masih sering duduk di kursi penumpang.

Kemandirian aviasi tidak bisa diklaim hanya karena kita memiliki maskapai dengan rute terbanyak atau bandara dengan terminal termegah. Kedaulatan sejati diukur dari seberapa dalam kita menguasai ‘dapur’ aviasi itu sendiri: rantai pasok (supply chain) dan perawatan (maintenance).

Saat ini, industri aviasi nasional masih sangat rentan terhadap crosswind global. Ketika rantai pasok suku cadang dunia tersendat, atau antrean MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul) di luar negeri mengular, pesawat-pesawat kita terpaksa grounded. Kita kehilangan triliunan rupiah devisa setiap tahun hanya karena kapabilitas perawatan tingkat lanjut belum terserap maksimal di dalam negeri. Ini adalah stall warning yang sudah berbunyi terlalu lama, namun sering kali kita redam dengan sekadar menyewa lebih banyak pesawat dari lessor asing.

Jika kita ingin mencapai kemandirian Aviasi 2045, kita harus mematikan mode autopilot. Kita harus membangun ekosistem MRO yang tidak hanya melayani perbaikan rutin, tetapi menguasai teknologi inti—mulai dari perawatan mesin, manufaktur suku cadang presisi tinggi, hingga vulkanisir ban pesawat secara mandiri. Infrastruktur ini harus tersebar strategis di pusat-pusat gravitasi ekonomi seperti Batam, Kertajati, Budiarto, hingga Makassar.

Hanya dengan mengamankan rantai pasok di tanah sendiri, kita bisa memastikan armada udara kita—baik komersial, privat, maupun pertahanan—selalu siap mengudara tanpa harus menunggu lampu hijau dari negara lain.

RADAR DISKUSI MINGGU INI:
Menurut Anda, hambatan terbesar apa yang membuat industri MRO dan manufaktur suku cadang aviasi lokal sulit bersaing dengan fasilitas di negara tetangga? Apakah pada regulasi, akses permodalan, atau sinergi antar-pemangku kepentingan? Mari berdiskusi di kolom komentar.